Kamis, 12 September 2019

Malaysia Trip : 3D2N kemana aja?

     Hai..hai... kali ini aku mau sedikit share pengalaman aku melancong ke Negeri Jiran kemarin bulan lalu. Aku pergi ke Malaysia di bulan Agustus lalu selama 3 hari 2 malam. Malaysia ini cocok banget untuk kalian yang ingin pergi ke Luar Negeri tapi belum punya pengalaman sama sekali pergi ke Luar Negeri alias traveller pemula dan minim budget. Kenapa Malaysia ini cocok banget buat traveller pemula? Karena aku sendiri pun gak pernah pergi ke Luar Negeri sebelumnya, ini adalah perjalanan perdana ku ke negeri orang. Bahasa Melayu yang dipakai di negara ini juga akan memudahkan kalian untuk berkomunikasi jika semisal kalian kurang fasih berbahasa Inggris.
     Langkah awal yang harus kalian persiapkan untuk mencicipi jalan-jalan ke luar negeri adalah paspor, visa (untuk negara-negara tertentu yang membutuhkan visa) dan tiket pesawat juga hotel. Untuk ke Malaysia kemarin, aku dapat tiket pesawat yang harganya miring banget. Harga tiket Surabaya - Kuala Lumpur PP dengan maskapai Citilink hanya 650 ribu saja? Gilaa..murah banget kan? Citilink juga memberikan fasilitas free 10kg bagasi dan free meals di pesawat. Aaaaa...terima kasih Citilink..sering-sering ya :p

      


     Untuk penginapan selama di Kuala Lumpur aku menginap di daerah KL Sentral. Kalau kalian mau ke Kuala Lumpur bisa menginap di daerah KL Sentral atau Bukit Bintang, karena letaknya strategis dekat dengan pusat kota. Oh ya, untuk hotel di Kuala Lumpur ini ada satu peraturan yang agak berbeda dengan di Indonesia. Di sana diberlakukan pajak hotel sebesar 10RM jika kalian menginap di hotel per kamar per malam, jadi jangan lupa siapkan uangnya ya.
     Hari pertama tiba di Kuala Lumpur, Malaysia aku mengunjugi KL Tower. Menara komunikasi di Malaysia yang menurut Wikipedia dibangun pada 1995 dan masuk ke jajaran nomor 6 menara tertinggi di dunia dengan ketinggian 421 m. Kalau kalian mau masuk ke KL Tower ini bisa beli tiket masuk-nya melalui Traveloka atau Klook, gampang banget dan harganya bisa lebih murah dibanding kalau beli langsung on the spot lho.
     Biasanya dijual 2 macam tiket : 1.) Observation deck 2.) Observation Deck, Sky Deck, Sky Box
Waktu itu aku beli yang lengkap. Di observation deck, kalian bisa menikmati pemandangan kota Kuala Lumpur dengan teropong. Sky Deck dan Sky Box merupakan spot foto yang instagramable buat ciwik-ciwik.
Sky Deck
Sky Box malam hari
     Berhubung waktu itu penerbanganku siang jadi sampai di Kuala Lumpur agak sore jadi ga bisa dapat foto waktu masih terang di Sky Box. Oh ya FYI, kalau mau foto di sky box ini antri-nya bukan main. Waktu itu aku nunggu kira-kira 60 lbh antrian, sementara foto-nya cuma 2 menit an. Mungkin saran buat kalian yang mau kesana, datang kira-kira jam 3 atau 4 sore jadi biar kebagian foto di skybox pas masih terang. (info : Kuala Lumpur mulai gelap sekitar jam 19:20 waktu Malaysia).

     Hari kedua, aku pergi ke Batu Caves dan Genting Highland. Oh ya, karena aku pergi dengan waktu yang sangat singkat dan membawa orang tua yang tenaga-nya gak sekuat anak muda jadi selama disini aku ga pakai transportasi umum sama sekali. Untuk keliling Batu Caves, Genting Highland, sempat ke Dataran Merdeka dan Petronas aku sewa mobil. Mungkin untuk kalian yang pergi kira-kira 4 orang dan gak mau ribet bisa sewa mobil kaya aku juga. Sewa mobil 12 jam untuk rute yang aku jelasin tadi merogoh kocek sekitar 300RM. Driver-nya recommended banget, bisa berbahasa Melayu yang sangat mudah ku mengerti..hehe dan ramah banget.

Batu Caves
     Kalau kalian pergi ke Malaysia, wajib banget mengunjungi Batu Caves ini. Selain tempatnya indah, bagus untuk poto-poto tempat ini gratis untuk biaya masuknya..hehehe aku suka gratisan anaknya :p
Wajib juga main-main ke Genting Highland, nyobain naik cable car, mengunjungi Chin Swee Temple dan belanja-belanji di Sky Avenue.
Di Genting Highland juga ada wisata petik buah stroberi gitu, cuma karena keterbatasan waktu aku gak kesana.
     Untuk cobain sensasi naik cable car, kamu harus pergi ke Awana Skyway. Beli tiket-nya dulu, tempatnya kalau ga salah di lantai atas (lantai2/3 aku agak lupa). Kemarin sih aku beli tiket-nya di mesin self ticketing gitu. Gampang banget tinggal ikutin aja perintah-perintahnya, dia berbahasa Melayu tapi tenang..mudah dimengerti kok. Oya kalau beli tiketnya langsung PP aja. Harga tiket one way 8RM per orang, jadi PP 16RM.


Cable Car ini akan mengantarkan kalian ke Mall Sky Avenue, tapi sebelum sampai di Sky Avenue kalian bisa berhenti dulu di Chin Swee Temple. Ini kaya fasilitas free stop gitu. Jadi kalau berhenti di stasiun Chin Swee ini untuk melanjutkan lagi ke Sky Avenue ga perlu bayar lagi. 

 
              Chin Swee Temple



     Setelah puas foto-foto  berkeliling di Chin Swee Temple, kembali ke stasiun dan lanjutkan perjalanan ke mall Sky Avenue.

Di Sky Avenue ini ada tempat yang menjual barang branded yang katanya harganya lumayan miring. Tapi aku ga sempet kesana sih karena waktunya mepet dan gapunya duit.  Disini juga ada tempat main casino juga, cuma ga sempat kesana. Wajib nonton Sky Symphony, semacam permainan musik yang dibarengi lampu-lampu yang bergerak-gerak. Sangat cantik deh pokoknya.
Terus buat kalian yang pengen nyari popcorn Eureka yang terkenal di Malaysia itu bisa beli di Sky Avenue ini. Pun juga popcorn garret Singapore, bisa kalian dapatkan di Sky Avenue ini.
     Pulang dari Genting Highland ini, aku menyempatkan diri untuk pergi ke Petronas Twin Tower. Karena kalau ke Malaysia belum mendatangi Petronas Twin Tower ini kayaknya kurang lengkap ya..hahaha. Walaupun gak masuk ke Petronas ini, aku sempat berfoto di depan menaranya biar pergi ke Malaysia lebih afdol.
tourist spot

     Setelah dari Petronas jalan lagi ke Dataran Merdeka, tempat bersejarah di Kuala Lumpur. Di dekat Dataran Merdeka ini ada tempat semacam museum gitu yang di depannya ada tulisan I Love KL. Cuma sayang sekali waktu itu tidak sempat masuk juga karena si mamah minta berbelanja di Central Market. Wajib banget sih belanja oleh-oleh disini karena harganya murah meriah. Puas berbelanja menghabiskan ringgit di Central Market balik ke hotel karena barang bawaan udah berat banget.
     Malam harinya, pergi ke kawasan Bukit Bintang yaitu mall yang paling ikonik Pavilion Mall.
Disini rame parah dan macet banget, entah pejalan kaki maupun kendaraan ngumpul jadi satu di kawasan ini. Ada salah satu tempat penyebrangan yang kalau kalian nyebrang itu serasa lagi ada di Shibuya Crossing. Keren dan wajib kesini deh.
     Dan yang gak boleh dilewatkan adalah makan makanan food street di jalan Alor. Makanan disini murah-murah dan enak. Tapi kudu pinter - pinter buat cari juga ya. Harga makanan dan jajanan yang aku cobain kemarin cuma sekitaran 10-20RM aja lho.

10RM isi 8 biji
                                                                               

      Hari terakhir di Malaysia, aku cuma ngemall di daerah KL Sentral yaitu NU Sentral Mall karena dekat banget dari hotel, cuma tinggal ngesot..hahaha.
Setelah itu siap-siap ke Bandara untuk pulaaanngg. Oya, fyi jarak dari pusat kota ke bandara ini cukup jauh, ditempuh sekitar 1 jam dengan menggunakan mobil/bus. Jadi, usahakan jangan terlalu mepet biar gak ketinggalan pesawat.
Oke, cukup sekian sharing pengalaman jalan-jalan di luar negeri dari aku. Semoga kapan-kapan bisa jalan-jalan lagi ke negara lain supaya bisa sharing lagi sama kalian semua.
Bandara KLIA 1

bonus city view
*kalau mau liat videonya bisa liat disini ya




 


Sabtu, 19 Januari 2019

Aku si manusia LAMBAT

                
     Aku si manusia lambat. Ya.. apa-apa serba lambat. Mulai dari lahir aja lambat, lama banget ga keluar-keluar. Saat mama saya harus mulai masuk rumah sakit dari hari Sabtu, saya si lambat dengan santainya bari lahir di hari Senin. Agak gede sedikit, di usia balita yang umumnya mulai bisa berjalan di usia 12 bulan saya baru bisa jalan waktu umur 18 bulan. Ya, telat setengah bulan saudara-saudara.

     Gak berhenti sampai disitu, sepertinya keterlambatan saya dalam mempelajari sesuatu hal yang baru dalam hidup ini berlangsung dan berlanjut sampai dengan sekarang saat saya berusia 23 tahun 5 bulan. Setelah lama lahir dan lama jalan saya harus menjalani fase kehidupan dimana saya telat banget bisa bersepeda roda dua. Umumnya teman-teman sebaya saat SD kelas 1 atau 2 udah pada bisa naik sepeda roda dua, atau minimal ya roda 3 (dua roda normal, 1 roda kecil). Ini saya enggak, saya masih mengendarai sepeda roda 4 jadi dua roda kecilnya belum dilepas gitu. Baru mulai belajar dan bisa bersepeda roda dua waktu saya udah kelas 4 SD, karena saya mulai merasa malu udah gede tapi masih belum bisa sepeda roda dua. Telat banget? Yeeeessss... dan masih ada kelambatan yang lain lagi! Whaaatttt...????
                
     Kalau saat usia anak-anak saya terlambat untuk ahli dalam naik sepeda roda dua, saat remaja menginjak dewasa saya terlambat menguasai kendaraan roda dua yang namanya motor. Yups, saya baru bisa mengendarai motor di jalan raya selayaknya manusia normal lainnya saat saya berusia 22 tahun. Dimana teman-teman saya rata-rata waktu SMA udah banyak yang bawa motor sendiri ke sekolah. Kalau buat anak yang paling bangor, yaa SMP udah mulai tuh ya berkeliaran naik motor. Walaupun sebenarnya kalau menurut saya idealnya bisa mengendarai motor di jalan raya itu ya pas kelas 3 SMA pas mau lulus atau pas udah mau kuliah. Jadi kan ilmunya bisa bermanfaat dipake buat modal untuk menimba ilmu, alias pas kuliah bisa berkendara sendiri kemana-mana tanpa harus menggantungkan diri untuk minta diantar kemana-mana. Itu pun dengan catatan kalau ada fasilitas motornya ya,..hehehe. Jadi ga kaya saya, yang saat kuliah jadi mahasiswa kupu-kupu karena menggantungkan diri sama orang rumah untuk minta dijemput. Ga bisa super sibuk di kampus, pulang mau jam berapa aja seenak udelnya. Saat kuliah saya harus konsisten pulang jam berapa biar dijemput jam berapa. Padahal aslinya males juga ikut kegiatan kampus karena mager dan gak suka mingle sama sesama mahasiswa..hahaha.
                
     Bisa dibilang juga telat dalam hubungan asmara dan percintaan. Di saat teman-teman wanita saya di umurnya udah mulai menjalin hubungan yang serius dengan pacarnya, ada yang udah dilamar dan mungkin udah menikah dengan sang pujaan hatinya, saya disini masih baru mendalami apa itu patah hati. Jangan ketawa, iya faktanya saat usia 22 tahun saya baru pertama kali pacaran dan sialnya 6 bulan kemudian saya harus merasakan pil pahit yang namanya patah hati dan kembali menjomblo. Selama 22 tahun hidup di dunia ini, baru mengerti dalamnya arti sebuah lagu patah hati (kalau dulu ada lagu patah hati yang musiknya enak dinyanyiin ya dinyanyiin aja tanpa ngerti makna lagunya).
    
     Miris banget sih hidupku, apa-apa serba telaaaatt. Dasar kura-kura lelet, umpatku dalam hati. Perlahan aku mulai melepas pandangan negatif tersebut. Kulepas kacamata negatif itu dan kuganti dengan kacamata lain, kacamata positif. Bahwa tidak semua manusia itu sama, dan tidak semua manusia bisa disamakan. Pelan-pelan mulai menerima bahwa ya aku memang lambat. Tuhan mendesainku begini adanya. Lambat mempelajari beberapa hal. Dan mungkin semua ada maksud dan tujuannya walaupun tak semua dapat kumengerti. Lambat belajar sepeda roda dua biar gak main muluk kerjaannya, jadi bisa rajin belajar dapet nilai bagus bisa bantu orang tua dengan beasiswa. Lambat bisa naik motor, yang walaupun agak bikin orang tua jadi susah karena harus mengantar jemput anaknya kemana-mana tapi mungkin maksud Tuhan baik. Mungkin kalau terlalu dini aku udah bisa naik motor, udah kupakai ngebut-ngebutan di jalan ala-ala anak motor terus kecelakaan di jalan dan ga ada postingan tulisan hari ini karena uda RIP (amit-amit woooyyy!!). Lambat dalam hubungan asmara, karena mungkin kalau aku mengalami patah hati itu pas masih sekolah atau kuliah bisa saja kondisi emosionalku yang masih tergolong mentah membuatku jadi bertindak bodoh hanya gara-gara putus cinta. Bersyukur saat mengalami putus cinta yang ternyata sakit, aku sudah cukup dewasa untuk menyikapinya jadi galau-galaunya gak lama-lama. Pokoknya intinya bersyukur lah. Kalau pun nantinya aku juga akan menjadi manusia yang terlambat menemukan pasangan hidupku, aku juga percaya kalau itu bukan petaka. Tapi Tuhan sedang mempersiapkan segalanya, bukan hanya mempersiapkan laki-laki yang akan menjadi pasangan hidupku tapi terlebih mempersiapkan diriku sendiri untuk jadi manusia yang seutuhnya. Yang lebih siap untuk memasuki dunia pernikahan, yang siap menjadi ibu dan istri yang baik. (kok jauh banget ya pemikirannya..hehe).
      
     Jadi begitulah kira-kira, aku bersyukur walaupun aku lambat tapi aku tetap diijinkan untuk belajar. Bahkan mungkin jadi lebih dalam memaknainya. It’s okay kok jadi manusia lambat, kalau ada kalian yang kebetulan membaca blog ini dan kalian juga manusia lambat. Kalian tidak sendiri, karena aku juga lambat. Aku tetap bahagia jadi diriku ini yang lambat. Hidup, slow but sure!!!

Senin, 17 Desember 2018

#2019gantimindset

     Tak terasa, tahun 2018 kian pendek usianya. Beberapa hari lagi kita akan sampai di penghujung tahun. Jadi, apa saja yang sudah dilakukan sepanjang tahun 2018 ini? Sudahkah berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya?
     Rollercoaster 2018, telah mengajarkan saya banyak hal. Walaupun masih jauh dari kata sempurna, setidaknya saya sedikit lebih baik daripada kemarin. Pengalaman-pengalaman pahit maupun manis itu membuka sedikit cara berpikir saya. Di tahun 2019 nanti, pastinya saya ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi. Menjadi manusia yang bahagia dan selalu bersyukur, berguna bagi orang-orang di sekelilingnya. Dan ini adalah formula saya,

   
     Terima kasih, 2018 untuk segala suka, duka, tawa, tangis, amarah, kekecewaan, dan cinta yang boleh ku rasakan. Semoga dengan semua yang telah terjadi aku perlahan bisa lebih memahami kekurangan-kekurangan diriku dan mengubahnya menjadi sesuatu yang positif. #2019gantimindset #2019haruslebihbaik.


Sabtu, 10 November 2018

Waktu

Malam itu..
Kala hatiku merajuk
Kubuka foto lama
Penuh canda dan tawa

Waktu..
Yang buat kita semakin jauh

Waktu..
Yang buat keadaan berubah
Membuat kita saling tikam

Waktu..
Telah mengubah canda tawa jadi benci iri

Waktu..
Hapus memori indah lama yang pernah kita lalui

Tapi, waktu..
Telah mengajarkan sesuatu
Waktu mengajarkan sesuatu
Bahwa segala sesuatu tak ada yang abadi
Bahwa segala sesuatu bisa berubah
Bahkan hanya dalam hitungan detik saja

Kuharap waktu..
Kan pertemukan kita kembali
Dalam senyum, tawa, canda, riang
Seperti dulu kala

Rabu, 18 Juli 2018

Sebuah Kisah Patah Hati



     Si jomblo ini akhirnya merasakan juga yang namanya pacaran. Membuka hati yang lama tertutup untuk merasakan indahnya dikejar-kejar seseorang, indahnya merasa dicintai, akhirnya ada juga yang memperhatikan dengan mengingatkan untuk jangan lupa makan dan lain sebagainya yang normalnya dilakukan oleh orang yang berpacaran. Ya, beberapa bulan yang lalu saya merasa dia-lah orang yang Tuhan kirimkan untuk saya. Lewat kejadian berkenalan kami yang menurut saya sangat tak terduga dan bak drama Korea (maaf mungkin saya yang lebay).

     Sedikit cerita pengalaman saya selama pacaran, waktu pertama kali saya mendapat pesan dari si dia yang isinya, “Pagi..”, “Udah makan?”, “hati-hati di jalan”, “Met bobok”, saya risih. Ya benar, saya risih karena maklum sudah genap 22 tahun 4 bulan menjomblo. Sempat waktu itu saya curhat dengan teman-teman kantor saya dan akhirnya mereka membuat saya mengubah sedikit cara berpikir saya. Yang mereka katakan kira-kira, “Kalau kamu pacaran tidak saling kasih kabar maka pacaran macam apa yang kamu jalani? Memang masih adaptasi, tapi jangan dijadikan suatu kewajiban yang membebani!”. Akhirnya saya pun mulai terbiasa dengan ritme orang pacaran pada umumnya. Bahkan saya yang malas untuk telepon dan video call mendadak jadi rajin melakukan rutinitas tersebut lantaran mantan saya bekerja di luar pulau.

     Serba pertama. Dia adalah pacar pertama. Pria pertama yang saya bawa ke rumah untuk berkenalan dengan kedua orang tua saya. Pria pertama yang menggenggam tangan saya. Yang pertama kali membelai rambut dan mendaratkan kecupan di kening saya. Termasuk pria pertama yang mengkhianati saya. Orang pertama yang membawa saya terbang ke awan dan seketika menjatuhkan saya ke dasar jurang.

     Rasa sakitnya masih sangat terasa. Bulan ketiga saya bersamanya sebenarnya saya merasa ada sesuatu yang mengganjal dan Tuhan seolah ingin menunjukkan keburukannya tapi saya menepisnya. Beberapa bulan saya mencoba menepis sebuah bukti yang saya temukan, hanya untuk membenarkan perasaan dan pikiran saya. Waktu itu saya benar-benar bodoh, saya memohon pada Tuhan agar hubungan ini tetap berada di jalan-Nya, saya meminta pada Tuhan jika dia bukan yang terbaik maka pisahkan kami tanpa menyakiti hati salah satu dari kami. Tetapi saat Tuhan member petunjuk, saya malah mengabaikannya.

     Tuhan memang tidak tinggal diam, Dia menggusarkan hati saya lewat kejadian-kejadian saat saya bersamanya. Tepat di bulan ke-lima kami bersama, sebuah masalah kecil menyeruak dan akhirnya memberanikan diri saya untuk mengatakan putus dengannya. Sebuah masalah kecil itu kemudian diam-diam menjalar ke masalah lain akibat dia yang tidak terima diputuskan karena masalah sepele. Benar, yang Tuhan tunjukkan tidaklah salah. Saya harus menelan pil pahit mengetahui dia juga bersama wanita lain saat menjalin hubungan dengan saya. Hampir dua bulan saya bergulat dengan perasaan galau. Dia yang gigih mempertahankan hubungan membuat saya hampir melupakan bahwa dia menduakan saya. Tapi lagi-lagi, Tuhan amat sangat baik pada saya. Terbuka semua borok yang akhirnya membuat saya berhenti denial/ menyangkal.

     Sakit memang rasanya, saat tahu semua kebusukannya. Ketulusan dan cinta yang selama ini saya berikan ternyata disia-siakan bergitu saja olehnya. Sungguh kejam, tapi mungkin mematahkan hati saya adalah cara Tuhan menyelamatkan saya dari orang yang salah. Baru kali ini saya merasakan patah hati, sakit hati yang teramat dalam. Kalau selama ini saya suka bingung kenapa ya ada orang malah patah hati saat tahu diselingkuhi, saya merasa kok gak realistis banget ini orang. Kali ini terjawab sudah yang selama ini saya pertanyakan. Saya baru tahu bagaimana rasanya patah hati. Kalau selama ini patah hati cuma gara-gara di PHP atau cinta tak berbalas, yang kali ini rasanya teramat sangat sakit.

     Terkadang Tuhan mengirimkan orang-orang dalam hidup kita untuk menjadi teman dalam kesulitan, guru ketika kita membutuhkan bimbingan, atau si jahat untuk memberikan suatu pelajaran bagi kita. Dan satu hal yang saya percaya, Tuhan pun mempunyai maksud baik yang demikian dengan kehadirannya di hidup saya. Mungkin saat ini sakitnya masih terasa, dan maksud Tuhan itu belum nampak jelas. Tapi saya percaya, suatu hari nanti saya akan merasa sangat-sangat bersyukur dan mengerti apa maksud Tuhan mempertemukan saya dengan dia.






“Berawal dari mencintaimu tanpa alasan, aku ingin mengakhirinya dengan membencimu tanpa alasan-TYT”
               

Sabtu, 23 Juni 2018

Sendiri lagi

Aku baru saja menata hati.
Belajar ikhlas dan sabar menanti.
Belajar bahagia walau sepi sendiri.
Sebelum akhirnya kamu datang menghampiri.

Kamu membawa sebongkah kebahagiaan.
Kamu membuat aku lebih bersyukur pada Tuhan.
Kamu mengisi hari-hariku yang selama ini kosong.
Kamu adalah tawa saat hari-hariku terasa penat.
Kamu ibarat nyawa baru dalam hidupku.

Tapi kini semua tak lagi sama.
Aku mencoba membuangmu dari ingatanku.
Menepis segala pinta dan rayumu untuk kembali padaku.
Kurasa aku tak sanggup lagi jalani denganmu.
Yang kuingin pisah darimu.

Aku bukan batu karang yang selalu kokoh walau ombak menghantam.
Aku hanya wanita biasa.
Yang kadangkala teringat senyum dan tawamu.
Yang selalu ingat nasehat-nasehat darimu.
Aku pun manusia biasa yang punya hati.
Kuakui terkadang rasa rindu itu melanda.

Tapi kini aku hanya ingin kita berjalan masing-masing.
Rasa curiga itu terlampau besar mengalahkan kepercayaan yang pernah kokoh kubangun.
Meski telah kau yakinkan padaku berulang kali agar ku mau mempercayaimu sekali lagi.

Terima kasih,
Telah singgah di hati yang kosong ini.
Telah mengajariku apa artinya cinta.
Telah mengajariku bagaimana rasanya dicintai dan mencintai.
Telah mengajariku sakitnya kehilangan.

Biarkan aku sendiri lagi.
Lupakan aku dan segala kenangan kita.
Jika kita memang ditakdirkan bersatu.
Percayalah, takdir akan membawa kita kembali.
Entah kapan dan dengan cara apa.

Jumat, 03 November 2017

JOMBLO Why Not?

     Hai-hai, sudah luama pol nggak ngeblog (sudah lama sekali tidak ngeblog). Dan akhirnya ada juga niat untuk kembali mengisi blog ini dengan coretan-coretan hasil pemikiran random.

     Jomblo, satu kata ini menggelitik pikiran random saya pagi hari ini (sebenernya dipikirinnya ya udah agak lama sih๐Ÿ˜‚). Nggak sedikit orang yang melontarkan pertanyaan maupun 'mengejek' kejombloan saya yang sudah berlangsung sekitar 22 tahun 89 hari๐Ÿ˜‚.
"Mblo kapan punya pacar?"
"Truk aja gandengan mblo masak kamu enggak"
Yang lumayan sering seliweran di komentar instagram, "Duh cantiknya, eman jomblo!"
Temen lama yang sudah lama ga ketemu pun sekalinya ketemu di dunia maya nyapa-nya ga enak banget, "Yok opo, wes gak jomblo ta saiki?" (Baca: Gimana, sudah nggak jomblo kah sekarang?)
Awalnya denger yang begituan ya buat lucu-lucuan aja. Lama-kelamaan kezel juga sih. Bukan cuma itu dan sebenernya lubuk pikiran saya yang paling dalam pun ikut memikirkannya. (Kacau banget pemilihan katanya..haha).

     Ada yang tanya, "Kamu cari yang kaya gimana, makanya JANGAN PILIH-PILIH! (Iya pake huruf BESAR dan Tanda Seru pemirsa). Menanggapi pertanyaan dan pernyataan ini komentar saya, ya kali cari pacar sembarangan. Asal si cowok mau sama saya ya udah daripada ga laku (jomblo) oke oke aja lah, padahal sifat si cowok ini ga baik dan dia bisa menjerumuskan kita ke hal-hal yang tidak diinginkan (halah oposeh๐Ÿ˜‚). Saya sebenernya bukan pilih-pilih juga, bukan dia yang harus punya paras tamvan dan sikap romantis kayak oppa oppa yang ada di drama korea, bukan juga dia yang dompetnya tebel setebel pajak kendaraan mobilnya, bukan yang seperti itu. Jadi selama ini yang saya anggap pilih-pilih itu yang seperti itu, harus yang ganteng atau tajir (entah kenapa saya ambil kesimpulan yang seperti itu). Tapi tetap saja lepas dari semua itu, saya tetaplah harus memilih sebelum mengambil. Lantas memilih yang seperti apa? Ga perlu ganteng cukup pria tulen, sehat jasmani dan rohani, tidak juga harus romantis karena menurut saya hal-hal sekecil apa pun (sebenarnya) bisa jadi romantis kalau memang ada cinta yang bertindak sebagai penggeraknya. Karena seseorang pernah berkata, "Kalau Tuhan memang mengijinkan cinta hadir diantara kita, maka semua hal tentang dirimu pastilah menarik". Tajir is not a must, I think! Buat apa kalau ternyata mobilnya kece tapi dibeliin pake duit hasil keringat ketek papi dan maminya. Naik motor hasil nyicil dari duit keringat sendiri itu jauh lebih keren sih menurut saya. Kalau pembicaraan pacaran mengarah ke pernikahan, ya memang tidak ada orang yang mau hidup berkekurangan saya kira. Bukan berarti cari suami yang kaya raya, tapi dia yang tetap mau berusaha dan bekerja keras bagaimana pun keadaannya sesulit apapun situasinya demi menghidupi keluarganya, ITU! Apakah saya pilih-pilih? Mungkin beberapa dari kalian yang membaca ini ada yang manggut-manggut sambil ngomong "pilih-pilih banget, dasar jomblo lu! Makanya jomblo!" Saya tidak tahu dan kalau pun benar saya hargai pendapat-mu๐Ÿ˜‰

     Ada juga yang bilang, "Jangan terlalu diem, kadang ada cowok yang gimana gitu kalau ceweknya terlalu diem.", okee saya memang PENDIAM kalau belum kenal, GILA kalau udah kenal lama. Sifat pendiam itu agak susah saya hilangkan, semakin keras saya mencoba menghilangkan sifat pendiam itu saya seperti kehilangan diri saya sendiri. Gak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tapi efek saya mencoba untuk ga jadi orang pendiam itu bisa seperti menguras energi saya 100kali lipat, seriously. Saya tahu sifat pendiam saya ini ga baik kalau dilanjut-lanjutkan tapi mau gimana lagi. Anggap aja pria-pria yang tidak tahan dengan kebisuan saya ini memang belum berjodoh. Mereka yang memilih menjauh sebelum mengenal saya lebih dekat belum berjodoh untuk bisa menemui kegilaan dan mendengar betapa kerasnya sebenarnya suara saya ini (apalagi kalau lagi cerita dengan menggebu-gebu). ๐Ÿ˜
Saya percaya, suatu hari nanti akan ada pria yang tetap mengajak saya berbicara walaupun saya diam seribu bahasa karena sifat saya yang pendiam ini bahkan akhirnya membuat saya nyaman ketika saya harus berbagi cerita tentang hari terburuk saya maupun saat saya merasa sangat bahagia (terharu dikit nulis kalimat ini๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜‚).

     Orang tua dan nenek pun bahkan sering menasihati, "Jangan galak-galak, nanti cowok pada kabur", ya kali kalau ada cowok ngomong baik-baik langsung saya bentak, ya ga mungkin dong ya. Kecuali si cowok penjahat kelamin, mungkin bakal aku galakin se-galak-galaknya anjing galak๐Ÿ˜‚.

     Pernah kepikiran juga, mungkin kalau waktu jaman sekolah saya tidak terlalu memikirkan punya pacar karena saya tidak ingin melalaikan tugas dan tanggung jawab saya sebagai seorang anak untuk belajar dan membangun masa depan yang bukan hanya saya saja tetapi yang tua dan keluarga saya harapkan. Kondisi sekarang kan beda, sudah nggak sekolah dan setidaknya sudah mulai sedikit mentas (keluar) dari orang tua secara finansial karena sudah bekerja. Lantas kenapa masih jomblo, kenapa tidak mencari pacar? Ya karena balik lagi sebenarnya ke alasan-alasan saya yang sudah saya kemukakan di awal tadi. Dan semakin berumur (baca : makin tua) saya berpikir pacaran bukan hanya untuk sekedar haha-hihi, hari senin makan disini, hari selasa makan disana, hari rabu ngafe cantik, hari kamis ngapel kerumah, hari jumat ngopi cantik, hari sabtu nonton dan hari minggu ngemall. Pacaran di umur yang sudah gak lagi muda tidak sebercanda itu. Mungkin benar semakin tua saya semakin pemilih. Agak terlalu idealis mungkin, tapi ya gimana... itulah pikiran saya. Karena pacaran sebenarnya miniatur dari sebuah pernikahan, kalau pernikahan kata orang menyatukan bukan hanya dua orang dan dua hati tetapi juga keluarga maka pacaran juga sebenarnya hampir sama seperti itu. Banyak sekali hal-hal setelah membicarakan soal dirimu dan dirinya. Ingat masih ada keluarga-mu dan keluarga-nya karena kamu dan dirinya bukan dengan sendirinya besar dan jadi seperti sekarang ini tanpa siapa-pun, ada orang tua nya dan orang tua-mu. Ya, memikirkan soal pacaran saya sudah berpikiran sejauh dan serumit itu๐Ÿ˜‚ (pantes jomblo ya๐Ÿ˜‚).

     Semoga ada laki-laki di luar sana yang setuju dan sepemikiran dengan saya, yang sekarang sedang Tuhan persiapkan, sebagaimana Dia juga mempersiapkan saya dalam masa jomblo saya ini. Dan suatu hari nanti, saat waktunya sudah tepat, saat Tuhan sudah berkata, "Anak-anakku, inilah saatnya kalian untuk berjumpa dan saling mengenal satu sama lain", saya percaya dia jodoh saya akan hadir di hidup saya. Saling isi kekurangan satu sama lain, saling support satu sama lain dan selalu berusaha jadi sepasang Anak Tuhan yang manis๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜‡


* Nggak setuju boleh, menghakimi jangan. Mungkin pikiran saya tidak sepenuhnya benar, mungkin salah, karena dalam hidup saya ini saya masih dan akan selalu belajar. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜‡